Total Pageviews

Search This Blog

Thursday, June 19, 2008

MAU JADI IKON KAPITALISME?

MAU JADI IKON KAPITALISME?
Oleh: Fahrur Mu'is


Beberapa hari sebelum menulis materi ini, saya diminta mengisi sebuah forum kecil di Solo tentang bagaimana menerjemahkan buku Arab ke Indonesia. Sekilas, saya memandang para peserta sangat bersemangat. Meskipun, jumlah mereka tak melebihi hitungan jari. Mereka ingin andil berdakwah melalui dunia penerjemahan buku-buku Islam. Saya kagum dengan ketulusan niat mereka.

Selang empat hari kemudian, ada seorang teman yang bergelut di dunia pemasaran buku menyampaikan keprihatinannya kepada saya. Setelah bersilaturahmi ke beberapa agen buku, katanya, ia dikejutkan oleh sebuah fenomena. Begitu sampai di tempat tujuan, ia langsung ditodong para agen dengan pertanyaan, "Mas, jauh-jauh ke sini mau ngasih diskon berapa?"

Ya, sebuah pertanyaan—yang menurutnya—mengikuti madzhab kapitalisme dan jauh dari dakwah islamiyah. Padahal, ia menambahi, buku-buku tersebut berisi ajaran Islam yang harus didakwahkan. Sayang, jika kedatangannya hanya diasumsikan murni sebagai pegiat bisnis. Ia takut jika orang yang seprofesinya dengannya, tak lebih dari keledai yang memikul buku ke sana kemari tanpa tahu maksud dan kandungannya.

***

Sengaja dua kisah di atas saya sampaikan dalam tulisan ini. Saya berharap tak ada kapitalisme yang berkedok agama. Karena memang banyak kepentingan yang diatasnamakan agama. Memang, agama takkan bisa dibungkus dengan kapitalisme, tapi tidak demikian dengan kapitalisme. Ia bisa masuk ke mana saja.

Kisah pertama menunjukkan bahwa niat awal menerbitkan buku atau mengindonesiakan buku Arab adalah membantu orang lain untuk memahami agamanya. Dalam bahasa agama ia dikenal dengan dakwah. Namun, seiring dengan perkembangannya, sebagaimana dalam kisah kedua, nilai kapitalisme lebih dominan daripada semangat menyebarkan rahmat ke seluruh alam.

Saya berharap semua pihak dalam dunia perbukuan tidak menjadi alat bagi pihak yang lain, baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat. Penerbit, agen, dan pembaca bukan alat siapa-siapa. Kita ingin seluruh pihak memosisikan dirinya sebagai partner bagi yang lain dalam kebaikan dan takwa. Bukan sebagai alat atau ikon kapitalisme.

No comments: