Total Pageviews

Search This Blog

Showing posts with label menulis. Show all posts
Showing posts with label menulis. Show all posts

Thursday, February 8, 2018

MOTIVASI MENULIS


MOTIVASI MENULIS
Oleh: Fahrur Mu'is
Sebulan yang lalu, sebuah organisasi kampus di kota Solo meminta saya untuk mengisi forum kajian Kamis pagi. Kata panitia, materinya sederhana, yaitu motivasi menulis. Menanggapi permohonan tersebut, saya hanya bisa senyam-senyum sendiri. Apa benar saya sudah layak memberi motivasi menulis? Sudah berapa sih buku yang saya tulis? Saya akui, pertanyaan tersebutlah yang membuat saya tersenyum sendiri.

Tak ada rotan, akar pun jadi. Demikian pepatah mengatakan yang, secara pribadi saya artikan dengan tak ada pakar, saya pun berani. Minimal saya sudah punya empat karya yang telah diterbitkan. Ditambah lagi, saya memiliki beberapa referensi yang memadai.

Nah, yang sudah saya sampaikan di kajian tersebut dan juga di sini ialah karya tulis yang telah dihasilkan oleh para ulama. Saya sampaikan sekadar contoh:
-Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, beliau mampu menulis sebanyak 40 lembar per hari.
-Imam Al-Baihaqi menulis kitab sebanyak seribu juz.
-Imam Abu Hatim Ar-Razi menulis kitabnya, Al-Musnad, sebanyak seribu juz.
-Ibnu Taimiyah telah menulis lebih dari 400 karangan dalam berbagai disiplin ilmu.
-As-Suyuthi, yang digelari dengan "Bapak Kitab" telah menulis hingga mencapai enam ratus karangan. Data tersebut dapat kita baca dalam buku Uluwwul Himmah, tulisan Muhammad Al-Muqaddam. 

Jelas hal itu membuat kita semua terkesima. Betapa produktifnya mereka menulis. Betapa barakahnya waktu mereka. Padahal, dahulu belum ada komputer, laptop, dan internet. Lalu, bagaimana dengan kita sekarang saat fasilitas sudah lengkap? Sudah berapa bukukah yang kita tulis? Maka, tak ada motivasi terkuat yang melebihi dorongan hati untuk menyampaikan kebenaran. Tulis sekarang juga!

Thursday, October 16, 2008

Rajin Membaca dan Menulis

Oleh: Fahrur Mu'is

Bismillahirrahmanirrahim. Itulah resep sebelum saya menulis. Dan tidak hanya itu, ketika sedang menulis dan jari-jari saya macet mengetik, saya pun membaca basmalah. Itulah pelajaran yang saya dapatkan hari ini: rajin membaca dan menulis. Karena rajin membaca akan memperluas wawasan serta menambah ilmu, sedangkan rajin menulis akan semakin memperlancar dan meningkatkan kemampuan kita menulis.

Rajin membaca saja tidak cukup. Karena itu ibarat orang yang memiliki bahan baku yang bagus, tapi tidak produktif. Pun rajin menulis saja tidak cukup. Karena tanpa disuplai ilmu dan wawasan yang memadai, tulisan akan terasa hambar, dan kesannya hanya itu-itu saja. Tak ada yang baru, kata orang-orang yang suka mencari naskah buku untuk diterbitkan.

Pelajaran hari ini saya coba praktikkan. Dan hasilnya adalah tulisan ini. Semoga esok hari dan esoknya lagi, hingga akhir hayat bisa saya praktikkan. Dan semoga saja, buahnya segera bisa saya nikmati, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Friday, September 12, 2008

Perjuangan Menulis Buku

Oleh: Fahrur Mu'is

Terus terang, menulis buku butuh perjuangan. Seringkali ide saya berseliweran di kepala. Ada judul ini dan ada judul itu. Semuanya menurut saya menarik. Saya pun ingin segera menulisnya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Tidak lama-lama. Paling sepekan, dua pekan, dan maksimal satu bulan.

Tapi seringnya kenyataan berkata lain. Jangka waktu yang sudah saya targetkan itu tidak menyelesaikan ide saya menjadi buku. Bahkan kadang-kadang cuma jadi mukadimah sudah berhenti. Kadang-kadang cuma jadi satu-dua bab. Dan ada yang hanya jadi judul dan daftar isi.

Terkadang memang berat melawan diri sendiri. Persoalannya bukan selalu tidak adanya waktu. Bukan tidak adanya fasilitas. Tapi kadang-kadang memang sulit menyingkirkan kemalasan dalam diri. Kurang kuatnya tekad dan sering banyak beralasan. Atau, jangan-jangan lalai dalam kenyamanan dan kemapanan.

Jika sudah begitu, saya selalu teringat para ulama yang sangat produktif menulis. Betapa banyak karya mereka. Betapa barakah waktunya. Betapa saya belum ada apa-apanya, apalagi sampai pada maqom mereka.

Di sinilah terkadang saya harus menjewer telinga sendiri. Karena jeweran orang lain biasanya tidak mempan. Hati kecilku berkata, “Tulislah sesuatu yang bermanfaat bagi umat. Tanpa melihat pujian dan celaan manusia. Karena kamu dimudahkan Allah dalam hal ini. Ya Allah, selalu tolonglah dan bimbinglah hamba yang lemah ini dalam menyampaikan risalah-Mu ini.”