Total Pageviews

Search This Blog

Tuesday, March 15, 2011

Catatan Perjalanan dari ISLAMIC BOOK FAIR JAKARTA 2011

Alhamdulillah, dengan nikmat-Nya amal saleh menjadi sempurna.

Kamis, 10 Maret 2011. Saya diantar oleh Mas Fiki ke agen bus Raya Kartasura. Di tiket, tertulis bus akan berangkat jam 19.00. Saya tunggu, tapi bus juga belum datang. Hati ini sudah harap-harap cemas. Sejam kemudian, tepatnya pukul 20.00 WIB, bus Raya Biq Top baru datang.

Jumat/11/3/2011. Saya sampai di Jakarta sekitar pukul 08.00 pagi. Saya kemudian transit di rumah kakak sepupu saya di Jakarta Timur. Seingat saya, dari Terminal Pulo Gadung, naik bus no 42, turun di TK Dwi Warna lalu dijemput. Setelah sarapan pagi, mandi, dan silaturahmi, pukul 11.00 saya menuju Senayan. Di jalan, kami sempat berhenti dahulu untuk menunaikan shalat Jumat.

Sekitar jam 13.30 saya sampai di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Mungkin ini adalah kali ketiga kunjungan saya. Langkah pertama yang saya lakukan adalah menemui teman yang sudah ada di stand. Setelah bertemu dan ngobrol ala betawi, saya kemudian mulai berjalan ke sana kemari, dari satu stand ke stand yang lain. Saya melihat mana buku-buku yang laris, baru, unik, dan obral. Saya pun mengamati bagaimana perilaku para pengunjung sebelum mereka memutuskan untuk membeli sebuah buku. Tidak lupa, saya juga mengadakan wawancara dengan para penjaga stand.

Hal itu saya lakukan sampai lampu di ruang pameran akan dimatikan. Ya, sekitar pukul 22.00 WIB. Saya kemudian menginap di rumah seorang teman di daerah Ragunan. Cukup naik Busway dengan sekali transit, sudah sampai. Naik dari Terminal Busway Senayan, transit di Dukuh Atas, dan berhenti di Ragunan.

Sabtu, 12/3/2011. Saya bangun kemudian shalat Subuh di sebuah mushola. Suara imamnya bagus sekali. Meskipun lama berdiri, tidak terasa karena menikmati lantunan kalam ilahi. Begitulah, para imam masjid seharusnya dipilih orang-orang yang bacaan dan suaranya bagus.

Pukul 09.00 saya menuju ke terminal Busway Ragunan. Tujuannya senayan. Sesampai di sana, saya gunakan untuk berjalan-jalan lagi. Ketika capek, saya sempat duduk di depan panggung utama. Waktu itu pas ada bedah buku Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan. PengisinyaTasaro. Saya sempat mendengar tips dia menulis buku. Pertama, membaca semua buku rujukan. Kedua, menandai data yang berkaitan dengan stabilo. Ketiga, mengaktifkan koneksi data ketika menulis.

Pukul 14.30 saya diantar oleh Mas Arif menuju garasi bus Raya. Pukul 15.30 jadwalnya bus berangkat menuju Solo. Ketika mengejar waktu tersebut, ternyata kami dihentikan oleh polisi yang sedang melakukan operasi pemeriksaan kendaraan bermotor. Mas Arif santai saja karena dia membawa SIM dan STNK. Tanpa kami sadari, ternyata Pak Polisi tersebut menemukan satu kesalahan, yaitu tidak menyalakan lampu di siang hari. Wah, cari gara-gara saja. Apa fungsinya lampu di siang hari bolong. Buat mubadzir saja! Dendanya 100 ribu. Cukup mahal. Bisa untuk makan 2 sampai 3 kali di Jakarta. Akhirnya, Mas Arif pilih sidang. Ketika Pak Polisi hampir selesai menulis tanggal dan tempat sidang, Mas Arif bilang, "Wis Piro?" (Bayar berapa?). Pak Polisi pun menjawab, "Seikhlasnya." Wah, lucu sekali. Aturannya gak jelas, penegak hukumnya apalagi.

Beberapa hal yang sempat saya catat saat berkunjung ke Islamic Book Fair 2011 adalah:

1. Buku abadi yang tetap laris

Mushaf Al-Qur'an dan buku tafsir.

Banyak sekali penerbit yang mencetak mushaf Al-Qur'an. Persaingan ada pada harga dan fitur. Anehnya, beberapa penunggu stand yang saya tanya, mengaku bahwa yang laris adalah Mushaf Al-Qur'an. Saya melihatnya, ini sudah benar-benar laut merah.

Menurut pengamatan saya, tafsir Al-Qur'an juga laris. Buku tafsir yang laris adalah terjemah Tafsir Ibnu Katsir dan Sahih Tafsir Ibnu Katsir. Tema laris lain yang ada kaitanya dengan Al-Qur'an adalah asbabun nuzul.

Buku hadis

Tema tentang hadis juga laris, baik buku Ringkasan Sahih Bukhari dan Muslim, Ringkasan Sahih Bukhari, Ringkasan Sahih Muslim, Riyadhus Shalihin, dan Bulughul Maram.

Kamus

Buku kamus Arab-Indonesia juga masih banyak peminatnya di pameran, baik Al-Munawwir maupun yang terbaru, Al-Azhar.

Buku Fikih

Buku-buku fikih juga masih laris, seperti fikih muslimah dan sebagainya.

Buku sirah
Buku sirah juga masih laris, seperti Rahiqul Makhtum maupun kisah para sahabat.

2. Buku laris yang tidak banyak pesaing

Ada buku yang laris karena memang belum banyak pesaingnya. Sebut saja buku Atlas Sirah Nabawiyah dan sejenisnya. Pun demikian dengan novel-novel yang memiliki kekhasan tinggi, semacam Hafalan Shalat Delisa. Buku saya, Agar Shalat Tak Sia-Sia juga masuk dalam kategori ini.

3. Buku baru
Mayoritas penerbit menggunakan event ini untuk mempromosikan buku barunya, baik dalam bentuk bedah buku, katalog, maupun banner. Di acara tersebut, saya sempat mengikuti peluncuran buku baru berjudul Palestina Kewajiban yang Terlupakan tulisan Raghib As-Sirjani. Pun demikian saya sempat melihat buku baru Catatan Hati Oki Setiani Dewi yang memanfaatkan ketenaran artis yang sedang naik daun. Saya sendiri hendak memprosikan buku baru saya: Belajar Islam untuk Pemula. Namun apa daya, buku belum jadi.


4. Buku obral
Bukan rahasia lagi jika pameran menjadi ajang obral buku-buku yang menumpuk di gudang. Di stand Mizan, saya mendapatkan buku obral mulai dari Rp. 3.000, dan Rp. 5.000. Di stand lain, saya juga mendapatkan ada yang hanya memberlakukan dua harga, yaitu Rp. 5.000 dan Rp. 10.000 untuk semua jenis buku. Hal ini sah-sah saja. Biasanya buku yang diobral adalah buku pangsa pasarnya terlalu sempit atau sudah ketinggalan moment.


5. Pengunjung buku
Pengunjung pameran buku Islam sangat beragam latar belakangnya. Namun, mayoritas mereka adalah orang-orang yang punya semangat untuk mempelajari Islam. Dan saya yakin, mereka semangat untuk mengamalkan Islam. Lihat saja mushola yang digunakan untuk shalat berjamaah. Selalu padat.

Ada perilaku pengunjung yang diam-diam saya perhatikan. Dan ini lumayan banyak, yaitu pengunjung yang belum tahu akan membeli apa di pameran. Mereka masih bingung. Mereka melihat-lihat judul, kover, sinopsis, daftar isi, harga buku kemudian pergi ke stand yang lain. Ada juga pengunjung yang sudah membawa daftar judul buku yang hendak dibeli. Tapi jumlahnya tidak banyak. Ada juga pengunjung yang hanya mencari buku yang judulnya aneh dan berbeda. Saya sempat menawarkan buku SHALAT A-Z ke pengunjung jenis ini. Saya bilang, ini buku SHALAT PERTAMA DI INDONESIA yang memiliki 10 keistimewaan. Tidak sampai dua detik, bapak tadi langsung membawanya ke kasir (® Fahrur Mu'is).

2 comments:

Anonymous said...

assalamualaikum wbt.


nice commenting bout jakarta islamic bookfair - hopefully 2follow u next year should we happen 2visit JIBF'2012 again..

huhu..

thanx for good info!


wassalaam wbt.

Fahrur Mu'is said...

waalaikum salam..semoga bermanfaat bagi kita semua.I hope be useful for we all