Total Pageviews

Search This Blog

Friday, December 12, 2008

BUKU BAGUS

Inilah SMS dari Saudara Ilham di Masohi Maluku Tengah berkenaan dengan buku RAJIN SHALAT, BADAN SEHAT:

Buku RSBS cukup bagus, akan lebih bagus lagi jika karya berikut didapatkan dari hasil penelitian pribadi sehingga ilmu yang didapatkan merupakan ilmu yang baru dan aktual.

Monday, December 1, 2008

pembaca usul judul buku

"Saya telah membaca buku Rajin Shalat Badan Sehat. Bagaimana kalau Bapak mengadakan penelitian: Perbedaan dampak bagi tubuh ketika seorang itu berkata jujur dan ketika berbohong......"

Itulah SMS panjang dari seorang pembaca dari Makasar. Tidak tanggung-tanggung, pesan yang cukup panjang tersebut dikirim tiga kali.

Tentu saja saya belum bisa mengiyakannya. Anda berminat? Silakan.

Monday, November 17, 2008

SAYA SANGAT SENANG BISA MEMBACA....


“Assalamualaikum! Selamat pagi! Nama saya Fandy, baru saja saya membaca buku Anda yang judulnya RAJIN SHALAT, BADAN SEHAT. Saya sangat senang bisa membacanya karena dari buku ini saya bisa mengetahui manfaat shalat.” 085242833xxx

Itulah komentar dari salah seorang pembaca yang sempat mengagetkan saya. Dua kalimat pembukanya menggunakan tanda seru. Mungkin, ia tipe orang yang enerjik dan bersemangat.

Hal itu sekaligus menjawab perkiraan saya sebelum menulis buku tersebut. Sebelum menulisnya, saya memiliki semacam hipotesa bahwa banyak umat Islam yang belum tahu manfaat shalat. Karena belum tahu manfaatnya, maka mereka terkadang bermalas-malasan mendirikannya. Ini yang pertama.

Yang kedua, karena tidak tahu manfaatnya, maka secanggih apa pun sebuah alat, kegunaannya akan kurang maksimal. Bahasa kerennya, shalat mereka kurang powerful.

Nah, di sinilah saya memotivasi umat Islam agar bersemangat dalam mendirikan shalat. Dan tentu saja caranya adalah dengan memaksimalkan seluruh potensi dalam menulis buku tersebut. Tidak hanya sepenuh hati, tapi juga sepenuh kreasi dan sebagainya.

Mau tahu lebih lanjut isinya?

Tuesday, November 4, 2008

SIAPA MEMBACA BUKU APA?





Ahad, 2 November 2008. Siang itu saya menghadiri pameran buku di Solo yang diadakan oleh Ikapi. Dari luar, di sana tampak ramai. Dan begitu masuk pintu, alhamdulillah saya langsung bisa melihat buku-buku saya mejeng di sana. Setidaknya ada empat judul buku saya: Sedekah Tanpa Uang, Rajin Shalat Badan Sehat, Agar Shalat Tak Sia-Sia, dan Bahagia Saat Sakit.


Alhamdulillah, tidak banyak orang yang mengenal saya sehingga saya pun ‘aman-aman’ saja dan tidak dikejar-kejar oleh pembaca. Ratusan ribu judul dipajang di sana. Ada buku baru, buku laris, dan buku sangat murah. Saya amati, ternyata pengunjungnya beragam, sesuai dengan tema dan aliran buku yang ada.

Dari pengamatan selama 2 jam-an, saya menyimpulkan bahwa setiap buku pasti punya kontribusi dalam mencerdaskan manusia. Benar, meskipun harganya sangat murah dan jarang diminati oleh pengunjung. Saya yakin, kalau tema tersebut bertemu dengan orang yang tepat, maka akan menjadi jodoh. Ya, seperti hukum tarik-menarik yang lagi ngetrend akhir-akhir ini.

Di sinilah pentingnya membaca siapa pembaca buku kita. Atau minimal, siapa kira-kira yang membutuhkannya. Apa jenis kelaminnya. Berapa usianya. Apa profesinya dan lain-lain. Tentu saja, buku yang luas pangsa pasarnya dan tinggi tingkat kebutuhannya akan banyak terbeli. Alhamdulillah, hal ini sudah saya buktikan dalam buku Agar Shalat Tak Sia-Sia. Insya Allah, Desember 2008 nanti, buku tersebut akan dicetak yang ke delapan kali dan sudah dibaca lebih dari 10.000-an ribu pembaca.

Thursday, October 23, 2008

BAGAIMANA MULAI MENULIS BUKU?


Biasanya, dalam menulis buku, setelah membuat outline, saya selalu menulis mukadimah terlibih dahulu.Bagaimana caranya? Sederhana saja. Anda cukup membuat semacam abstraksi dari apa yang hendak Anda tulis. Tidak mengapa bila di kemudian waktu Anda sedikit atau bahkan total mengubahnya. Inilah contoh mukadimah yang saya tulis di buku Rajin Shalat, Badan Sehat.

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita semua. Semoga seluruh nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kita menjadikan kita sebagai hamba yang pandai bersyukur. Karena syukur akan mengikat nikmat yang telah kita dapatkan dan menarik nikmat yang belum datang.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada penutup para nabi dan rasul, Muhammad saw beserta keluarga, shahabat, dan para pengikutnya hingga hari kiamat.
Sampai detik ini, masih banyak kita temukan umat Islam yang bermalas-malasan dalam mengerjakan shalat. Mereka merasa berat menjalankan shalat dan memandangnya sebagai beban yang menyusahkan. Tidak bebas dan terikat. Di antara mereka bahkan ada yang tidak tahu sedikit pun manfaat disyariatkannya shalat, baik di dunia maupun di akhirat.

Bila kita kaji, di samping memiliki manfaat yang hebat bagi agama, pribadi, dan masyarakat, shalat juga memiliki manfaat yang dahsyat bagi kesehatan jasmani dan rohani. Dengan mengetahui manfaat tersebut, seorang muslim akan shalat dengan senang hati.

Buku ini akan memaparkan berbagai manfaat shalat, terutama dari aspek kesehatan. Judul Rajin Shalat, Badan Sehat bukan berarti bahwa shalat adalah satu-satunya cara untuk sehat. Tetapi, lebih menunjukkan bahwa shalat memang bisa mencegah sebagian penyakit dan menjaga kesehatan, baik fisik maupun mental. Hal ini dikuatkan pula dengan berbagai penemuan ilmiah akhir-akhir ini.

Yang tak kalah penting, pembahasan ini sekaligus membuktikan bahwa ilmu modern masih terus menemukan mukjizat Al-Qur’an yang turun empat belas abad silam. Demikian pula, hal ini secara jelas membuktikan bahwa seluruh syariat Islam membawa manfaat dan maslahat bagi manusia di mana saja dan kapan saja.

Semoga Allah menjadikan tulisan ini murni untuk mencari ridha-Nya dan bermanfaat bagi kita semua, baik di dunia ini dan lebih-lebih di akhirat nanti. Akhir kata, walhamdulillahi rabbil alamin.

Solo, 20 Mei 2008
Fahrur Mu’is

Tuesday, October 21, 2008

Berbagi ilmu di buku

Saat malam 1 Syawal tiba, dan suara takbiran bersaut-sautan dari satu masjid ke masjid yang lain, ternyata ada pembaca yang sempat mengirim SMS ke saya. Menurut informasi yang saya terima, ia baru saja membaca buku saya. Judulnya Rajin Shalat, Badan Sehat.








Katanya, ia terkesan dan merasa mendapatkan banyak manfaat. Tak lupa, dari luar jawa nun jauh di sana, ia mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum.

Pembaca yang lain, yang berada di NTB, ingin berkenalan dengan saya setelah membaca buku tersebut. Ia mendapatan hal yang baru.

Itulah sekelumit komentar dari pembaca buku saya ini. Pelajaran yang bisa kita ambil, terkadang hal yang kita anggap biasa, menjadi luar biasa di mata pembaca. Terkadang hal yang sudah lama kita ketahui, baru diilmui oleh orang lain. Maka, jangan enggan untuk selalu berbagi ilmu.

Thursday, October 16, 2008

Rajin Membaca dan Menulis

Oleh: Fahrur Mu'is

Bismillahirrahmanirrahim. Itulah resep sebelum saya menulis. Dan tidak hanya itu, ketika sedang menulis dan jari-jari saya macet mengetik, saya pun membaca basmalah. Itulah pelajaran yang saya dapatkan hari ini: rajin membaca dan menulis. Karena rajin membaca akan memperluas wawasan serta menambah ilmu, sedangkan rajin menulis akan semakin memperlancar dan meningkatkan kemampuan kita menulis.

Rajin membaca saja tidak cukup. Karena itu ibarat orang yang memiliki bahan baku yang bagus, tapi tidak produktif. Pun rajin menulis saja tidak cukup. Karena tanpa disuplai ilmu dan wawasan yang memadai, tulisan akan terasa hambar, dan kesannya hanya itu-itu saja. Tak ada yang baru, kata orang-orang yang suka mencari naskah buku untuk diterbitkan.

Pelajaran hari ini saya coba praktikkan. Dan hasilnya adalah tulisan ini. Semoga esok hari dan esoknya lagi, hingga akhir hayat bisa saya praktikkan. Dan semoga saja, buahnya segera bisa saya nikmati, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Friday, September 12, 2008

Perjuangan Menulis Buku

Oleh: Fahrur Mu'is

Terus terang, menulis buku butuh perjuangan. Seringkali ide saya berseliweran di kepala. Ada judul ini dan ada judul itu. Semuanya menurut saya menarik. Saya pun ingin segera menulisnya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Tidak lama-lama. Paling sepekan, dua pekan, dan maksimal satu bulan.

Tapi seringnya kenyataan berkata lain. Jangka waktu yang sudah saya targetkan itu tidak menyelesaikan ide saya menjadi buku. Bahkan kadang-kadang cuma jadi mukadimah sudah berhenti. Kadang-kadang cuma jadi satu-dua bab. Dan ada yang hanya jadi judul dan daftar isi.

Terkadang memang berat melawan diri sendiri. Persoalannya bukan selalu tidak adanya waktu. Bukan tidak adanya fasilitas. Tapi kadang-kadang memang sulit menyingkirkan kemalasan dalam diri. Kurang kuatnya tekad dan sering banyak beralasan. Atau, jangan-jangan lalai dalam kenyamanan dan kemapanan.

Jika sudah begitu, saya selalu teringat para ulama yang sangat produktif menulis. Betapa banyak karya mereka. Betapa barakah waktunya. Betapa saya belum ada apa-apanya, apalagi sampai pada maqom mereka.

Di sinilah terkadang saya harus menjewer telinga sendiri. Karena jeweran orang lain biasanya tidak mempan. Hati kecilku berkata, “Tulislah sesuatu yang bermanfaat bagi umat. Tanpa melihat pujian dan celaan manusia. Karena kamu dimudahkan Allah dalam hal ini. Ya Allah, selalu tolonglah dan bimbinglah hamba yang lemah ini dalam menyampaikan risalah-Mu ini.”

Friday, August 8, 2008

Buku Jadi, Siap Ngisi

Oleh: Fahrur Mu'is

Sepekan setelah buku Rajin Shalat, Badan Sehat dicetak, ada permintaan dari tim marketing kepada saya untuk mengisi bedah buku di sebuah stasion radio. Acara tersebut berlangsung selama 60 menit. Dan setelah sekitar lima menit presentasi, pertanyaan pun masuk berdatangan. Bahkan bertumpuk. Tidak hanya lewat SMS, tapi juga lewat telepon langsung. Asyiknya, seluruh pertanyaan dapat saya jawab secara memuaskan. Entah kenapa waktu itu saya merasa sangat percaya diri dan menguasai materi.

Perasaan tersebut ternyata terulang kembali. Tepatnya ketika saya ditodong untuk menjadi khatib Jumat dadakan. Saya tenang saja. Saya ambil buku Rajin Shalat, Badan Sehat, beres urusan.

Tidak hanya itu, dalam berbagai kesempatan ceramah, baik di majelis taklim ibu-ibu atau kajian umum di masjid, tema tersebut menjadi bestseller. Artinya, sering saya sampaikan dan direspon sebagai tema baru dan segar.

Meskipun, jujur saja setelah dicetak saya belum pernah membaca sampai selesai buku saya tersebut. Itulah hebatnya sebuah proses penulisan. Saya berhasil masuk dan menyatu dengan tema yang saya tulis. Dan akibatnya, tentu saja, materi yang saya tulis tersebut telah ‘mendarah daging’ dalam tubuh saya. Walaupun, tidak menutup kemungkinan bahwa virus PDI (penurunan daya ingat) akan menyerang. Tapi, saya tetap bisa tenang karena materinya sudah diabadikan dalam bentuk buku. Mau mencoba?

Friday, July 25, 2008

Editor: Orang Seni yang Teliti

Oleh: Fahrur Mu'is

Salah satu pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan jiwa seni yang tinggi ialah editor. Sebelum membahas lebih lanjut, mari kita urai makna kedua kata tersebut. Teliti, menurut KBBI ialah cermat; saksama; hati-hati; ingat-ingat, sementara seni ialah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, dan sebagainya); karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa.

Menurut hemat saya, seorang editor buku harus memiliki dua hal ini. Kenapa? Karena buku yang ia bidani kelahirannya merupakan karya yang bermutu dan diciptakan dengan keahlian yang luar biasa. Tak semua orang bisa dan mampu mengerjakannya.

Jiwa seni dan teliti adalah modal dasar. Perpaduan antara keduanya akan melahirkan sebuah kepuasan. Meskipun, persoalannya tidak berhenti sampai di situ. Karena masih ada beberapa aspek yang perlu dikembangkan dari seorang editor, semisal bagaimana pandai bermain cantik dengan deadline dan mahir mencari solusi dari persoalan yang muncul saat mengedit.

Bagaimana kalau sekarang kita belum teliti? Asah dan latih terus ketelitian Anda. Semakin banyak naskah yang Anda edit, apa pun bentuknya, ketelitian Anda akan semakin meningkat. Bagaimana dengan jiwa seni? Itu juga soal mudah. Kalau selama ini tulisan atau editan kita masih terasa kaku, coba sering-seringlah membaca koran atau majalah. Bandingkan pilihan katanya. Asal ada kemauan untuk belajar dan mengembangkan diri, saya yakin hal ini mudah diatasi. Mau mencoba?

Tuesday, July 22, 2008

Siapa Saya?

Baru-baru ini ada teman yang meminta kurikulum vitae saya. Setelah cari sana-sini, ternyata tidak saya temukan. Selang sehari CV tersebut baru saya temukan di sebuah file komputer saya. Nah, agar mudah dan selalu siap diakses, CV tersebut saya posting di sini.

Lebih-lebih, ini bisa menegaskan bahwa saya memiliki otoritas dalam dunia penulisan dan perbukuan.

Nama : Fahrur Mu’is, S.Pd.I
Email : muis_jepara@yahoo.co.id
Blog : fahrurmuis.blogspot.com/ustadzmuis.blogspot.com

Riwayat Pendidikan:

-SD N 1 Sinanggul, Mlonggo, Jepara, lulus tahun 1994.
-Mts Ma’ahid Kudus lulus tahun 1997.
-MA Ma’ahid Kudus lulus tahun 2000.
-I’dad Lughawi Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq Surakarta lulus tahun 2002 dengan predikat cum laude.
-Takmili Ma’had Al-Imarat Bandung lulus tahun 2003 dengan predikat cum laude.
-S1 Jurusan Tarbiyah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta lulus tahun 2006 dengan predikat cumlaude.
-Sedang menempuh S2 magister studi Islam konsentrasi pemikiran dan peradaban Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Pengalaman Kerja
1.Guru Bahasa Arab di SMU Al-Muhajirin, Muara Badak, Kutai Kartanegara, Kaltim tahun 2001.
2.Pemimpin redaksi penerbit Pustaka Arafah Solo tahun 2005.
3.Pengajar Ulumul Qur’an di Pusat Studi Al-Qur’an (PUSQBA) Tsaqifa Surakarta tahun 2007.
4.Pemimpin redaksi Pustaka Arafah Solo tahun 2005.
5.Penulis buku Islam di penerbit Pustaka Iltizam dan Pustaka Ad-Da’wah, Solo (2007).
6.Penerjemah buku-buku Arab di berbagai penerbit Islam Solo (2004-sekarang).
7.Ketua Departemen Editing Naskah CV Arafah Group (Mei-Desember 2006).
8.Redaktur Pelaksana Media Zikir (Januari-April 2006).
9.Kontributor di Majalah Arafah(2005-2006).
10.Staf Pengajar di Pesantren Mahasiswa Al-Ausath Surakarta (2004-2005).
11.Pendiri dan Staf Pengajar Pusat Studi Kitab Gundul Al-Furqon, Solo.


Karya Tulis:
1.Bahagia Saat Sakit, Pustaka Iltizam Solo, 2007.
2.Nama Terindah untuk Anakku, Pustaka Ad-Da’wah Solo, 2007.
3.Agar Shalat Tak Sia-Sia, Pustaka Iltizam Solo, 2007.
4.Sedekah Tanpa Uang, Aqwam Solo, 2007.
5.Rajin Shalat, Badan Sehat, Aqwam Solo, 2008
6.Berobat dengan Shalat, dalam proses penerbitan di PTS Islamika Malaysia.


Karya Terjemahan Arab-Indonesia:
1.Jihad Sepanjang Zaman, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Pustaka Arafah: Solo, cetakan pertama tahun 2006.
2.Kemesraan Nabi Bersama Istri, Adib Al-Kamdani, Pustaka Arafah: Solo, cetakan pertama tahun 2006.
3.Melihat Indahnya Surga, Zuhair Hasan Hamidat, Insan Kamil: Solo. Cetakan pertama tahun 2006.
4.Menebar Cinta Menuai Surga, Nazhmi Khalil Abu Al-Atha, Wafa Press: Solo.Cetakan pertama tahun 2007.
5.400 Kesalahan dalam Shalat, Mahmud Al-Mishri, Pustaka Arafah: Solo.
6.Jejak Para Khalifah, Amru Khalid, Aqwam: Solo.

Karya Suntingan
A. Penerbit Pustaka Arafah Solo

1. Mukhtashar Ad-Da’ wa Ad-Dawa’ [Terapi Penyakit Ruhani], Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, cetakan pertama tahun 2005.
2. Mukhtashar ‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin [Perisai Orang-Orang Sabar dan Bersyukur], Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, cetakan pertama tahun 2005.
3. Mukhtashar Hadi Al-Arwah ila Bilad Al-Afrah [Tamasya Ke Surga], Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, cetakan pertama tahun 2005.
4. Mukhtashar Raudhatul Muhibbin [Taman Orang-Orang Jatuh Cinta], Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, cetakan pertama tahun 2005.
5. Mukhtashar Ath-Thibbun Nabawi [Metode Pengobatan Nabi], Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, cetakan pertama tahun 2005.
6. Kado Pengantin, Majdi Muhammad Asy-Syahawi dan Aziz Ahmad Al-Athar, cetakan pertama tahun 2006.
7. Belajar dari Abu Bakar, Fadhl Ilahi, cetakan pertama tahun 2006.
8. 20 Pintu Riya’, Salman bin Fahd, cetakan pertama tahun 2005.
9. Tips Bahagia Dunia Akhirat, Aidh Al-Qarni, cetakan pertama tahun 2005.
10. Sepuluh Menit yang Menentukan, Abdul Malik Al-Qasim, cetakan pertama tahun 2005.
11. Agar Iman Selalu Bertambah, Abdurrazaq bin Abdul Muhsin, cetakan pertama tahun 2005.
12. Hisnul Muslim, Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahtani, cetakan pertama tahun 2005.
13. Problem and Solution, Shalih Al-Munajjid, cetakan pertama tahun 2005.
14. Wirid Ibu Hamil, Ummu Abdillah Naurah, cetakan pertama tahun 2005.
15. Muslimah Esok Hari, Yusuf Qardhawi, cetakan pertama tahun 2005.
16. Meredam Gejolak Syahwat, Abdul Lathif dan Asyraf Qodh, cetakan pertama tahun 2005.
17. 40 Hadits Pilihan Dalam Manhaj Salaf, Ali bin Yahya, cetakan pertama tahun 2005.
18. Hadits-Hadits Dha’if Populer, Abdul Aziz As-Sadhan, cetakan pertama tahun 2006.
19. Malam Pertama, Syaikh Nada Abu Ahmad, cetakan pertama tahun 2007.

B. Penerbit Media Zikir Solo

20. Juz 28,29, 30 dan Terjemahannya, cetakan pertama tahun 2006.
21. Hadits Arba’in dan Terjemahannya, Imam Nawawi, cetakan pertama tahun 2006.
22. Rahasia Istana Surga, Abdullah bin Za’l Al-Anazi, cetakan pertama tahun 2006.

C. Penerbit Media Islamika Solo

23. Bisa Jadi, Ini Ramadhan Terakhir Kita, Salman Bin Fahd Al-Audah, cetakan pertama tahun 2006.
24. Kafir Tanpa Sadar, Abdul Qodir bin Abdul Aziz, cetakan pertama tahun 2006.
25. Al-Wala’ wal Bara’, Ahmad Azh-Zhawahiri, cetakan pertama tahun 2007.

D. Penerbit Samudera Solo

26. Manajemen Sekuriti Muslimah, Noorsaid Harun, cetakan pertama tahun 2005.
27. Humor Segar, Muhammad Abdullah Khairuddin, cetakan pertama tahun 2005.
28. Kiat Memikat Suami, Imam Fajaruddin, cetakan pertama tahun 2005.
29. Bunda, Maafkan Aku, Burhan Sodiq, cetakan pertama tahun 2005.
30. Agar Rencana Selalu Berhasil, Muhammad Nabil Kadzim, cetakan pertama tahun 2007.

E. Penerbit Aqwam solo

31. Spiritual Reading, Raghib As-Sirjani dan Amir Al-Madari, cetakan pertama tahun 2007.
32. Keajaiban Ayat Kursi, Ahmad Asy-Syarqawi, cetakan pertama tahun 2007.
33. Hidup Sehat dengan Shalat Subuh, Adnan Ath-Tharsyah, cetakan pertama tahun 2007.
34. Kiamat Kok Diramal, Muhammad Al-Muqaddam, cetakan pertama tahun 2008.

Aktivitas:
Penulis di website www.aqwam.com dan www.ustadzmuis.blogspot.com

Monday, July 21, 2008

CARA NULIS BUKU LARIS

Oleh: Fahrur Mu'is

Alhamdulillah, setelah berjuang selama kurang lebih enam bulan untuk merampungkan buku Agar Shalat Tak Sia-Sia, akhirnya selesai juga. Tercatat pada bulan Agustus 2007, buku tersebut baru selesai dicetak sebanyak 3000 eksemplar. Dan lima bulan berikutnya, tepatnya Februari 2008, ada kabar gembira bahwa buku saya masuk buku laris. Saat menulis tulisan ini, 21 Juli 2008, buku tersebut sudah dicetak sebanyak lima kali.

Info itu saya dapatkan dari Kompas pada tanggal 25 Februari 2008. Buku Laris Pustakaloka-Februari 2008, demikian judul berita tersebut yang datanya diperoleh dari 28 Toko Buku Gramedia di Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Papua, Timor, dan Sumatera. Data tersebut merupakan hasil penjualan selama bulan Januari 2008.

Inilah info detailnya:

K O M I K
- Naruto 36 & 37 | Mushasi Kishimoto | Elex Media Komputindo
- Detektif Conan 49 | Aoyama Gosho | Elex Media Komputindo
- One Piece 46 | Eichiro Oda | Elex Media Komputindo
- Death Note 03 | Tsugumi Ohiba & Takeshi Obata | m&c!
- Bleach 03 | Tite Kubo | m&c!

F I K S I
- Harry Potter 07 : Harry Potter dan Relikui Kematian | JK Rowling | Gramedia Pustaka Utama
- Laskar Pelangi | Andrea Hirata | Bentang
- Sang Pemimpi | Andrea Hirata |Bentang
- Ketika Cinta Bertasbih | Habiburahman El Shirazi | Republika
- Edensor | Andrea Hirata | Bentang

N O N F I K S I
- Doktor Cilik Hafal dan Paham Al Qur’an | Dinayah Sulaiman | Mizan
- Siapa Sebenarnya Soeharto | Eros Djarotr | Media Kita
- Soeharto : The Life and Legacy | Retnowati | Marshal Cavendish
- 168 Jam Dalam Sandera | Mutia Hafid | Hikmah
- Benny, Tragedi Seorang Loyalis | Julius Pour | Kompas

P A N D U A N
- Secret | Rhonda Byrne | Gramedia Pustaka Utama
- Quantum Ikhlas | Erbe Sentanu | Elex Media Komputindo
- La Tahzan Jangan Bersedih | Aid Al Qarni | Sahara & Qisthi Press
- Agar Shalat Tak Sia-Sia | Muhammad bin Qusri/Fahrur Mu'is | Pustaka Iltizam
- Langkah Mudah Meraup Dollar Lewat Internet | Taufik | Media Kita

Bagaimana caranya?

Kalau ditanya caranya, saya kira biasa saja. Yaitu: tulis saja! Tapi proses kreatifnya itu yang saya akui luar biasa. Untuk membuat judul yang tepat saja, saya harus berdebat panjang dengan para ahli perbukuan dan konsumen. Belum lagi soal isi yang memang tergolong baru dan memiliki diferensiasi yang tinggi. Ditambah lagi, pencarian dan pemilihan dalil sahih yang memerlukan ijtihad dan kerutan dahi. Tidak hanya itu, omongan-omongan yang tidak enak didengar dari kanan-kiri pun sering kali menusuk hati.

Alhamdulillah, selesainya naskah tersebut membuktikan bahwa saya mampu menikmati proses dalam menulis buku. Sederhana saja. Ketika terbetik sebuah ide, jangan lupa Anda tulis. Lalu, kembangkan apa yang mau Anda tulis ke dalam beberapa bab. Bab pertama dan kedua biasanya berisi semacam pendahuluan untuk masuk ke inti persoalan. Pada bab berikutnya, Anda dituntut untuk mengexplorasi persoalan berikut solusinya.

Namun, yang tak kalah penting juga ialah bagaimana Anda menyampaikan materi buku ke pembaca. Karena, hakikat menulis ialah komunikasi antara penulis dan pembaca. Dan inilah letak kesuksesan jangka panjang bagi penulis dan sekaligus penerbitnya.

Thursday, July 3, 2008

ASYIKNYA BIKIN SINOPSIS

Oleh: Fahrur Mu'is

Membuat sinopsis buku memang asyik. Karena sinopsis atau backcover adalah iklan utama dari sebuah buku, maka tak bisa dibuat main-main. Ia harus menjual. Begitu dibaca, orang harus langsung ingin membeli. Kalau belum seperti itu, berarti tulisan di belakang kover sebuah buku tersebut kurang menyentuh emosi pembeli. Meskipun, ini juga masih relatif. Artinya, pandangan kita bisa berbeda.

Oleh karena itu, para editor harus kreatif dan terbuka terhadap kritik. Kadang kita sudah merasa bagus, tapi orang lain menilainya biasa-biasa saja. Ya, itu wajar. Kata pepatah Arab: Li kulli ra’sin ra’yun ‘setiap kepala memiliki pendapat.’

Sebab, kalau pembuat sinopsis itu ususnya tidak panjang, ia bisa ngambek, mutung, putus asa, emosi, marah, dan hatinya bisa keruh oleh sifat negatif lainnya. Maka, sejak awal harus ditanamkan rasa asyik dulu ketika menulis sinopsis dalam hati.

Contohnya, ketika membuat sinopsis buku saya yang berjudul: RAJIN SHALAT, BADAN SEHAT, saya membuatnya sampai lima kali. Akhirnya, sinopsis yang kelimalah yang dipakai dan disepakati oleh tim kami. Tentu saja keputusan ini ditelorkan melalui diskusi dan dialog yang cukup panjang. Begitulah asyiknya menulis sinopsis. Memang, tidak semua buku kasusnya seperti ini. Kadang-kadang ada yang sekali langsung jadi. Dan tidak hanya itu, kadang-kadang juga ada yang harus ganti pembuatnya.

Inilah sinopsis yang saya maksudkan:

RAJIN SHALAT, BADAN SEHAT

Dr. Fidelma, seorang neurolog asal Amerika memeluk Islam karena shalat. Ketika melakukan kajian saraf, ia mendapatkan beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini yang tidak dimasuki oleh darah. Padahal, setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup agar berfungsi secara lebih normal. Dalam penelitiannya ia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak melainkan ketika seseorang tersebut shalat, yaitu ketika sujud.

Tak hanya itu. Shalat juga bikin awet muda. Hasil penelitian kedokteran terbaru menyatakan bahwa shalat lima kali sehari yang dilakukan dengan khusyuk dan tafakur merupakan faktor alami terpenting dalam mengaktifkan hormon-hormon muda yang dikenal dengan hormon milatonin. Bila aktif, hormon-hormon ini akan menunda penuaan yang terjadi pada diri manusia. Nah…

Buku ini mengajak Anda menyelami ‘samudera’ shalat yang sangat dalam. Kian jauh Anda menyelam, kian mengagumkan nikmat yang akan Anda rasakan!

5 Gizi Utama Buku Ini:
1. Apa hubungan ibadah dan kesehatan?
2. Ibadah apa sajakah yang menyehatkan?
3. Apa manfaat shalat bagi jasmani dan ruhani kita?
4. Benarkah shalat dapat menyehatkan dan mengobati penyakit?
5. Bagaimana kiat agar shalat bisa menyehatkan?

Wednesday, June 25, 2008

KESAN PERTAMA MENULIS BUKU

Oleh: Fahrur Mu'is

Jujur saja, sebelum buku pertama saya diterbitkan, saya sudah membaca banyak buku tentang kepenulisan. Tak hanya itu, sekeranjang tips menulis buku bestseller pun telah selesai saya baca. Ditambah lagi, pengalaman selama 2 tahun bekerja di penerbitan sudah pasti menambah ke-pede-an saya.

Singkat kata, buku saku Bahagia Saat Sakit, berhasil saya selesaikan dalam tempo kurang lebih satu bulan. Dan setelah dicetak 4000-an eksempar, banyak respon berdatangan. Inilah sebagian respon yang berhasil saya dokumentasikan:

"Ass aq lg baca bukumu nih yang berjudul bahagia saat sakit. Buku kamu lumayan, jadi sedikit support bua aq saat ini. Tapi…kadang kumerasa lelah dengan semua cobaan ini.” (081 335 xxx xxx)
“Ass, namaku uswah, rumahku di Kendal, aku dah baca karya anda, yang berjdul bss, aku cuma mau ucapin teruslah berkarya untk kemaslahatan umat, wass.”

“Alhamdulillah saya merasa terbantu ketika saya dapat tugas kultum dengan buku karya akhi BSS.”

“Slamat malam, aqu dodo anak smp n 1 , pak saya br saja membeli buku karya anda yang berjudul BSS, saya mau tanya rahasianya apa?”

“Saya salut dengan buku bss. TERIMAKSIH ATAS BUKU YANG TELAH MEMBUAT SI SAKIT TEGAR DAN OPTIMIS. SELAMAT.” (Rahmat, Pekanbaru)

“Ustadz fahrur, saya uwitri siswa sma kelas 2. saya cm mo bilang buku bss bagus sekali.”

“As. Akhi syukran jazilan ya, setelah an baca buku BSS, alhamdulillah lebih semangat menjalani hidup. Ana berfikir kalo hati sudah sakit, kenapa raga ini harus sakit. oh ya saya tunggu karya antum berikutnya.” (Bahjah Marhyah, Cilegon).

“Setelah Qbaca BSS, ternyata meskipun kecil tapi isinya bagus banget. Kusuka karena isinya dipadukan antara pengobatan secara alami dan disertai doa-doa. Jadi siapa yang mengamalkan sungguh berjalan kedua-duanya.” (Alfaqiroh A'in Al-Jamboni).


Inilah kesan mendalam dalam hati saya yang disemaikan oleh para pembaca. Semoga ini adalah kabar gembira yang tidak membuat saya terlena untuk menelorkan karya-karya berikutnya.

Thursday, June 19, 2008

BUKU YANG ENAK DIBACA DAN BERGIZI

Oleh: Fahrur Mu'is

Menerbitkan sebuah buku bukanlah pekerjaan main-main. Sesuka dan sesenang hati. Apalagi asal-asalan. Ia adalah aktivitas serius yang menghajatkan curahan tenaga, kreativitas, ketrampilan, pikiran, dan dana. Ia tak sekadar menyusun kata-kata untuk kemudian ditata dan dijual.

Menerbitkan buku, setidaknya melibatkan beberapa hal. Misalnya, visi, misi, bisnis plan, pilihan cita rasa buku. Tulisan ini bermaksud ikut andil dalam menghasilkan buku yang enak dibaca dan bergizi.

Buku yang enak dibaca dan nikmat dirasa, setidaknya harus memenuhi beberapa unsur. Di antaranya ialah mudah dipahami, masuk akal, taat asas, dan tepat dalam pilihan kata. Ibarat sebuah masakan, buku juga menghajatkan bumbu yang sesuai dengan resep makanan yang dikehendaki. Nah, enak dibaca berarti memerhatikan masalah bumbu ini.
Buku yang bergizi ialah buku yang di dalamnya mengandung kebenaran. Si penulis meyakini dan mengamalkan apa yang ia tulis. Bahkan, ia menjadi orang pertama yang mempraktikkan kebenaran yang ia serukan.

Dahulu, banyak ibu yang mengingatkan anaknya yang sedang menulis buku. Salah satunya adalah ibu dari seorang ulama besar, Sufyan Ats-Tsauri. Pada suatu saat ibunya berpesan dan memberi nasihat, “Wahai anakku, apabila engkau menulis sepuluh huruf, maka lihatlah pada dirimu: apakah rasa takut, kelemahlembutan, dan ketenanganmu semakin bertambah? Jika hal itu tidak engkau lihat ada pada dirimu maka ketahuilah bahwa hal itu akan memudharatkanmu dan tidak memberi manfaat bagimu.”
Buku yang bergizi adalah buku yang mendidik para pembaca. Ia tidak mengobral kata tanpa makna. Tidak memoles tulisan dengan kepalsuan. Tapi, ia benar-benar tulus dalam menunjukkan kebenaran.

Buku yang bergizi adalah buku yang menghibur pembaca dari kesedihan dan memperingatkan dari ketergelinciran. Dan, ia benar-benar dibutuhkan, baik oleh jasmani maupun ruhani. Tidak hanya untuk kejar target dan koleksi.
Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi kita.

MENULIS DENGAN HATI

Oleh: Fahrur Mu'is


Sebelum saya mengenal dunia penerbitan, saya memiliki cita-cita yang, menurut orang kampung saya, tidak masuk akal. Cita-cita tersebut adalah menjadi penulis. Saya menyadari hal itu karena masyarakat saya adalah masyarakat tukang kayu. Setiap hari yang mereka tahu adalah bagaimana kebutuhan materi tercukupi. Mereka tidak tahu buku ini dan buku itu. Paling banter, yang mereka tahu adalah buku yasin, barzanji, dan tahlilan. Tidak lebih dari itu.

Namun, saya tidak putus asa. Ejekan dan celaan mereka justru saya tanggapi dengan banyak membaca dan menuliskan apa yang saya ketahui ke dalam lembaran-lembaran buku tulis. Benar, saya berhasil menulis hingga belasan judul di buku tulis. Waktu itu saya tidak tahu, bagaimana buku tersebut bisa diterbitkan dan dibaca banyak orang. Bahkan, saya yakin hingga sekarang hanya ada segelintir orang yang membacanya. Atau, bisa jadi, tak ada seorang pun yang membacanya.

Karena satu dan lain hal, cita-cita tersebut sempat saya lupakan. Selama tiga tahun saya berpetualang menuntut ilmu dan mencari pengalaman kerja. Memang agak pahit, tapi ia menyembuhkan. Dalam rentang waktu tersebut, saya pernah tercatat sebagai penjual sayuran, pedagang mie ayam, guru, karyawan, dan sopir. Tak ada yang kebetulan karena semua telah ditakdirkan. Demikian saya mencoba menghibur diri.

Sampai akhirnya saya bertemu dengan teman-teman yang bergelut di dunia penerbitan buku. Tanpa sadar, cita-cita saya menjadi penulis bangkit kembali. Menemukan tempat yang tepat untuk bermimpi. Namun, saya sempat kecewa. Selama dua tahun di penerbitan, ternyata saya mandul. Tak ada karya yang saya hasilkan, selain buku-buku yang saya sunting.

Memang saya sempat menawarkan beberapa karya ke beberapa penerbit. Tapi, malang tak dapat ditolak dan untung tak dapat diraih. Karena kritikan dari berbagai penerbit, hampir saja saya berkesimpulan bahwa mereka adalah tim pencela. Bukan pembangun mental dan jiwa.

Saya kembali ke cita-cita awal. Menulis dengan hati untuk kemaslahatan umat. Bukan mengejar royalti atau ketenaran. Saya ingin menulis untuk menyampaikan kebenaran. Tak peduli, biar pembaca yang menilai. Dan, alhamdulilah sudah terbukti. Setelah beberapa buku saya terbit, banyak respon positif dari para pembaca yang membaca dengan hati. Dan benar, apa yang dari hati akan sampai ke hati.

MAU JADI IKON KAPITALISME?

MAU JADI IKON KAPITALISME?
Oleh: Fahrur Mu'is


Beberapa hari sebelum menulis materi ini, saya diminta mengisi sebuah forum kecil di Solo tentang bagaimana menerjemahkan buku Arab ke Indonesia. Sekilas, saya memandang para peserta sangat bersemangat. Meskipun, jumlah mereka tak melebihi hitungan jari. Mereka ingin andil berdakwah melalui dunia penerjemahan buku-buku Islam. Saya kagum dengan ketulusan niat mereka.

Selang empat hari kemudian, ada seorang teman yang bergelut di dunia pemasaran buku menyampaikan keprihatinannya kepada saya. Setelah bersilaturahmi ke beberapa agen buku, katanya, ia dikejutkan oleh sebuah fenomena. Begitu sampai di tempat tujuan, ia langsung ditodong para agen dengan pertanyaan, "Mas, jauh-jauh ke sini mau ngasih diskon berapa?"

Ya, sebuah pertanyaan—yang menurutnya—mengikuti madzhab kapitalisme dan jauh dari dakwah islamiyah. Padahal, ia menambahi, buku-buku tersebut berisi ajaran Islam yang harus didakwahkan. Sayang, jika kedatangannya hanya diasumsikan murni sebagai pegiat bisnis. Ia takut jika orang yang seprofesinya dengannya, tak lebih dari keledai yang memikul buku ke sana kemari tanpa tahu maksud dan kandungannya.

***

Sengaja dua kisah di atas saya sampaikan dalam tulisan ini. Saya berharap tak ada kapitalisme yang berkedok agama. Karena memang banyak kepentingan yang diatasnamakan agama. Memang, agama takkan bisa dibungkus dengan kapitalisme, tapi tidak demikian dengan kapitalisme. Ia bisa masuk ke mana saja.

Kisah pertama menunjukkan bahwa niat awal menerbitkan buku atau mengindonesiakan buku Arab adalah membantu orang lain untuk memahami agamanya. Dalam bahasa agama ia dikenal dengan dakwah. Namun, seiring dengan perkembangannya, sebagaimana dalam kisah kedua, nilai kapitalisme lebih dominan daripada semangat menyebarkan rahmat ke seluruh alam.

Saya berharap semua pihak dalam dunia perbukuan tidak menjadi alat bagi pihak yang lain, baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat. Penerbit, agen, dan pembaca bukan alat siapa-siapa. Kita ingin seluruh pihak memosisikan dirinya sebagai partner bagi yang lain dalam kebaikan dan takwa. Bukan sebagai alat atau ikon kapitalisme.

JUDUL PUN PERLU ETIKA

JUDUL PUN PERLU ETIKA

Ketika terbit buku yang berjudul Dajjal 'Sudah' Muncul dari Khurasan, banyak orang yang mengeluh kepada saya. Kata mereka, dengan setengah tidak percaya, "Mas, apa betul Dajjal sudah muncul? Terus, sekarang di mana?" Bahkan, saking takutnya, ada seorang pembaca yang datang ke penerbit minta dituliskan doa-doa penangkal Dajjal.

Menarik. Karena judul tersebut berhasil menyedot perhatian pembaca. Tapi sayang, ketika ditanyakan ke hati nurani, secara jujur dan jelas ternyata judul tersebut sedikit mengelabui. Meskipun, itu adalah keputusan pemasaran dan penerbit telah memberi tanda kutip tunggal pada kata 'Sudah' yang pada cetakan berikutnya diberi keterangan baca: 'Sudah Pasti' sebagai bentuk pertanggung jawaban. Diakui ataupun tidak, demikianlah adanya karena kata 'Sudah' tak bisa ditafsiri.

Sebulan kemudian, saya diminta oleh para mahasiwa UNS untuk menjadi moderator dalam acara bedah buku Sudah Munculkah Dajjal, Ya'juj & Ma'juj? Sekali lagi, banyak pihak yang menyampaikan kepada saya bahwa judul tersebut latah dan dipaksakan. Modal numpang.

Ternyata, fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada buku-buku pemikiran, tetapi juga telah merambah pada buku-buku hiburan. Ambil saja contohnya buku Misteri Shalat Subuh yang dibantah 'gila-gilaan' oleh buku Menguak Misteri Shalat Subuh. Bahkan, ketika saya ingin menulis buku, saya betul-betul kaget. Mengapa? Karena ternyata buku bantahannya sudah terbit duluan.

Tidak hanya itu. Judul yang asal numpang alias ikut-ikutan juga banyak. Baru-baru ini saya dicurhati oleh teman sesama penulis yang judul bukunya juga mengalami nasib yang sama. Bedanya dengan saya, bukunya sudah terbit dahulu kemudian baru 'ditumpangi'.

Akhlak penjudulan. Itu yang mau saya sampaikan di sini. Saya tahu bahwa itu semua ada ilmunya dalam buku-buku refrensi tentang penulisan. Tapi, ada yang perlu kita ingat: apakah itu adalah cara orang beriman ataukah tidak. Jangan-jangan itu adalah jalan orang-orang di luar Islam yang menghalalkan segala cara. Apakah demi segepok uang kita tega 'sedikit' membohongi? Apakah karena ingin mengejar perdikat bestseller kita abaikan akhlak islami? Mari bertanya pada hati kecil kita. Sekali lagi, di sini saya mewakili keresahan sebagian pembaca, bukan bermaksud apa-apa.

MENGASAH KETERAMPILAN

MENGASAH KETERAMPILAN
Oleh: Fahrur Mu'is

Baru-baru ini ada teman yang mengeluh. Seiring dengan rutinitas megedit setiap hari, katanya, ilmu dan kemampuannya tidak bertambah. Bahkan, imbuhnya, cenderung menurun. Mengapa? Bukankah banyak jam terbang berarti tambah keterampilan? Bukankah banyak pengalaman berarti tambah keahlian?

Sejenak saya merenung. Mencari, kira-kira apa jawabannya. Dan benar, hal itu juga saya rasakan. Ketika saya terjebak dalam sebuah rutinitas terpola, seperti mengedit, menerjemah, dan menulis yang tiada henti, ternyata saya tidak semakin produktif. Saya tidak tahu, entah ini hanya terjadi pada saya, entah juga pada Anda.

Berkaitan dengan hal ini, saya teringat ketika belajar menjadi tukang kayu 20 tahun yang lalu. Waktu itu, kakek menyuruh saya menggergaji kayu. Pada awal-awal waktu, saya mampu menggergaji dengan cepat. Namun, tidak demikian dengan waktu-waktu selanjutnya. Meskipun saya menggergaji dengan tenaga dan alat yang sama, ternyata waktunya semakin lama. Setelah diselisik, ternyata hal itu disebabkan oleh gergaji yang kian lama kian tumpul. Akhirnya, hasilnya pun tidak maksimal.

Dari situ, saya tersadar bahwa keterampilan manusia juga perlu diasah. Tanpa pengasahan, keterampilan akan stagnan. Tak bertambah, tapi malah mungkin berkurang. Banyak menulis bukan jaminan tulisan akan lebih bagus dan berkualitas. Pun demikian, banyak menerbitkan buku bukan jaminan buku selanjutnya tambah bermutu. Tergantung apakah ada pengasahan keterampilan dan penambahan ilmu atau tidak. Jika tidak, boleh jadi buku yang dihasilkan akan menurun. Baik pilihan tema yang tidak kuat maupun hasil editing yang monoton. Ringkasnya, tidak semakin lebih baik.

Inilah tantangan bagi para perajin buku. Dan bagaimana konkretnya? Silakan semua berkreasi. Tidak selalu dengan membaca. Tidak mesti dengan pelatihan, dan tidak harus dengan dialog. Lalu, dengan apa? Apakah dengan ilmu kebatinan alias dibatin saja? Tentu tidak, cara tersebut bisa digunakan, hanya saja saya tidak membatasi.

Friday, June 13, 2008

AGAR SHALAT TAK SIA-SIA

SHALAT TANPA PAHALA

Oleh: Fahrur Mu'is

Amal seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalat seseorang baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Sebaliknya, jika shalat seseorang buruk, sungguh ia telah gagal dan merugi. Tapi sayang, bila diperhatikan, banyak orang shalat yang hanya asal-asalan. Shalat baginya adalah beban. Tujuan pelaksanaanya tak lebih dari menggugurkan kewajiban. Gerakannya tanpa penghayatan dan bacaannya hanya sekadar hafalan. Shalatnya sia-sia dan sedikit pun tidak memberi pengaruh dalam kehidupan.

Buku yang ditulis oleh Muhammad bin Qusry ini alias Fahrur Mu'is menawarkan berbagai cara agar shalat kita tidak sia-sia. Sebab, jauh-jauh hari Rasulullah telah mengingatkan, “Sungguh seseorang telah shalat selama 60 tahun, tetapi satu pun shalatnya tidak ada yang diterima. Boleh jadi ia menyempurnakan rukuk, tetapi tidak menyempurnakan sujud. Atau, ia menyempurnakan sujud, tetapi tidak menyempurnakan rukuk.” (HR. Abul Qashim Al-Ashbahani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah).

Dalam buku ini, pengarang tidak hanya membahas sebab-sebab internal, tetapi juga sebab-sebab eksternal yang membuat shalat tak berpahala. Penulis membagi buku tersebut menjadi empat bab, yaitu dimulai dengan penyegaran kembali tentang kedudukan shalat dalam Islam dan diakhiri dengan berbagai cara agar shalat tak sia-sia.

Buku ini menarik dan membuat penasaran seluruh umat Islam. Benarkah ada hal-hal yang menyebabkan shalat tidak diterima? Atau, bahkan ‘menjewer’ telinga siapa saja yang buruk shalatnya. Bagaimanapun, buku ini merupakan buku pertama yang membahas penyebab shalat sia-sia dan tak berpahala. Oleh karena itu, layak dibaca oleh siapa saja yang ingin dipermudah hisabnya.

BERTEMU DALAM BUKU

BERTEMU DALAM BUKU

Oleh: Fahrur Mu'is

Penulis Sedekah Tanpa Uang

"Saya pembaca buku Sedekah Tanpa Uang asal Aceh. Berkat membaca buku itu, saya jadi bersemangat melakukan kebaikan." 085261673XXX

Setelah buku saya dicetak ribuan eksemplar, kadang-kadang muncul pertanyaan: siapa pembacanya? Pertanyaan ini sangat logis karena memang banyak penulis yang jarang bertatap muka dengan pembaca bukunya. Asumsi dasar mengatakan bahwa pembaca itu ada. Jumlahnya besar. Siapa pun tahu berapa jumlah penduduk Indonesia.

Dalam hitungan bulan, pertanyaan itu mulai ada jawabnya. Beberapa pembaca mulai kirim Sandek 'pesan sandek'. Ada yang berterima kasih. Ada yang bertanya. Ada menyemangati. Ada yang curhat. Ada yang memberi masukan. Dan ada yang sedikit tertarik pada profil penulisnya.

Semuanya bercampur aduk jadi satu. Dalam ruang dan waktu yang berbeda. Jujur, terkadang hal itu menambah motivasi dan mengaduk-aduk emosi. Ala kulli hal, saya senang mendapat masukan dari sana-sini.

Secara pribadi, saya merasa harus bertanggung jawab pada publik. Atas apa? Atas apa yang saya tulis dan atas apa yang saya sampaikan. Dan yang terpenting, bagaimana kualitas tulisan ke depan lebih bagus. Karena hakikatnya semua 'Sandek' tersebut adalah sebuah peringatan: tingkatkan kualitas.

Di sinilah pikiran saya dan pembaca bertemu. Dalam tempat yang bernama buku. Dalam ruang yang bernama pemikiran. Meskipun, jasad tak pernah bertemu dan rupa tak pernah terbayang. Namun, itu tidak menghalangi bibir untuk tersenyum dan kepala untuk geleng-geleng.

Ya, ini terjadi jika ada yang membaca dan juga ada yang menulis. Lebih penting dari itu, bahasa, wawasan, perasaan, dan hati keduanya harus nyambung. Atau, minimal dibuat bagaimana bisa tersambung. Tentunya, agar manfaat yang didapat semakin besar.

SEDEKAH TULISAN

SEDEKAH TULISAN

Oleh: Fahrur Mu'is

Penulis Sedekah Tanpa Uang

Empat tahun terakhir ini, saya seringkali menjadi ustadz dadakan alias pengisi pengganti. Karena ustadznya berhalangan, maka panitia minta tolong agar saya bersedia menggantinya. Dengan bersenjatakan kata "minta tolong" umumnya panitia menaklukkan hati saya.

Sebenarnya, saya tidak suka cara seperti itu. Mengapa? Karena menyampaikan sebuah materi pengajian bukan seperti jualan jamu. Ia perlu persiapan yang matang. Dalil kuat dan penyampaian memikat. Tapi, sayang—meskipun sudah sering saya sampaikan—hal ini kurang dipahami. Banyak orang yang menganggap bahwa ustadz menguasai materi apa saja. Diminta bicara apa pun juga bisa.

Itulah mengapa saya berniat menulis sebaik-baiknya, dan kalau bisa sebanyak-banyaknya. Menurut hemat saya, tulisan tersebut harus memiliki dalil yang kuat, penyampaian memikat, serta bahasa yang sederhana dan enak dibaca. Harapan saya, ketika diminta menjadi pemateri, saya tidak repot-repot mempersiapkan materi ke sana kemari. Tapi, tinggal menengok tulisan-tulisan saya dan kemudian langsung menyampaikannya. Ini yang pertama.

Kedua, saya ingin seluruh tulisan saya menjadi amal jariyah. Atau, minimal sebagai sedekah, baik bagi saya pribadi maupun orang lain. Bisakah tulisan menjadi sedekah? Mari kita simak sabda Nabi berikut ini:

“Pahala amalan dan kebaikan yang akan menghampiri seorang mukmin sepeninggalnya ialah ilmu yang ia amalkan dan sebarkan, anak saleh yang ia tinggalkan, mushaf yang ia tinggalkan, masjid yang ia bangun, rumah untuk orang yang dalam perjalanan yang ia bangun, sungai yang ia alirkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya di kala sehat dan hidupnya, maka ia akan bakal menghampirinya sepeninggalnya.” (HR Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahîhul Jâmi‘).

"Kata-kata yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju shalat adalah sedekah, dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah" demikian Rasulullah mengajari kita dalam hadits riwayat Al-Bukhari.

Maka, bersedakhalah, meskipun dengan satu kata!

MOTIVASI MENULIS

MOTIVASI MENULIS

Oleh: Fahrur Mu'is

Sebulan yang lalu, sebuah organisasi kampus di kota Solo meminta saya untuk mengisi forum kajian Kamis pagi. Kata panitia, materinya sederhana, yaitu motivasi menulis. Menanggapi permohonan tersebut, saya hanya bisa senyam-senyum sendiri. Apa benar saya sudah layak memberi motivasi menulis? Sudah berapa sih buku yang saya tulis? Saya akui, pertanyaan tersebutlah yang membuat saya tersenyum sendiri.

Tak ada rotan, akar pun jadi. Demikian pepatah mengatakan yang, secara pribadi saya artikan dengan tak ada pakar, saya pun berani. Minimal saya sudah punya empat karya yang telah diterbitkan. Ditambah lagi, saya memiliki beberapa referensi yang memadai.

Nah, yang sudah saya sampaikan di kajian tersebut dan juga di sini ialah karya tulis yang telah dihasilkan oleh para ulama. Saya sampaiakan sekadar contoh:

-Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, beliau mampu menulis sebanyak 40 lembar per hari.

-Imam Al-Baihaqi menulis kitab sebanyak seribu juz.

-Imam Abu Hatim Ar-Razi menulis kitabnya, Al-Musnad, sebanyak seribu juz.

-Ibnu Taimiyah telah menulis lebih dari 400 karangan dalam berbagai disiplin ilmu.

-As-Suyuthi, yang digelari dengan "Bapak Kitab" telah menulis hingga mencapai enam ratus karangan. Data tersebut dapat kita baca dalam buku Uluwwul Himmah, tulisan Muhammad Al-Muqaddam.

Jelas hal itu membuat kita semua terkesima. Betapa produktifnya mereka menulis. Betapa barakahnya waktu mereka. Padahal, dahulu belum ada komputer, laptop, dan internet. Lalu, bagaimana dengan kita sekarang saat fasilitas sudah lengkap? Sudah berapa bukukah yang kita tulis? Maka, tak ada motivasi terkuat yang melebihi dorongan hati untuk menyampaikan kebenaran. Tulis sekarang juga!